Bagaimana Rute Jalan dari Cidaun ke Sayang Heulang

Diantara kita ada petualang sejati yang berani mengarungi lautan lepas dan jalanan panjang nan berkelok dan mendaki, kesasar justru nambah asyik petualangan. Banyak juga kita yang punya sedikit waktu dan harus efektif dalam mengatur waktu karena esok hari ada agenda lain yang menanti.

Bila saya meringkas tajuk rencana dari catatan ini, maka saya cukup dengan satu kata saja yaitu “ngetan” artinya arah rute kita ke “wetan” artinya dari Cidaun jalan memang ke Timur, meskipun pada kenyataannya jalan selalu mengikuti contour jalan, nantinya ada ke utara dulu, melingkari bukit arah timur, belok arah jam 3, dan kembali lurud ke Timur. Kalau kata teman-teman yang terobsesi dengan film kera sakti yang pergi ke barat mencari kitab suci, maka perjalanan ke Sayang Heulang, Santolo dan Ranca Buaya adalah jalan ke timur mencari Nirwana dunia. Duuuh udah kaya mbah aja nih ngemengnya … hehe

Yah, memang dari Cidaun - Cianjur letak Sayang Heulang yang berada di Wilayah Cikelet Garut ada di sebelah timur. Maka bila kita Datang dari Jakarta, Sukabumi, Cianjur Selatan dan yang searah dengan itu, bila menggunakan jalan Cianjur selatan maka perjalalan kita lanjutkan ke Timur saja.

Di Cidaun

Saya akan batasi dahulu isi tulisan ini dengan tulisan tempat wisata di Cidaun. Sebenarnya kalau kita perhatikan landscape daerah cidaun baik pegunungan atau pantainya sangat-sangat baik untuk dijadikan tempat wisata. Bila kita yang pecinta petulangan alam yang asri maka Cidaun sangat cocok. Bila saya sebutkan daerah yang sunyi dan membuat sehat paru-paru adalah daerah mekar jaya, Cimaragang, Gelar Pawitan, dan Puncak Baru.

Tempat pertama yang ingin kusebut adalah Desa Cidamar yang merupakan pusat pemerintahan masa lalu dan masih menyimpan cerita yang selalu terkait dengan Majapahi, Pajajaran, dan masa kerajaan-kerajaan Islam. Hingga tersiar digdayanya sang Prabu Siliwangi dan Sang putera Prabu Kian Santang di cerita masyarakat Cidamar. Memang begitulah, bila ada seseorang yang tinggi ilmunya, luas kekuasaannya, santun budi pekertinya, maka orang ini akan banyak menemukan saudara dan menganggapnya sebagai anak keturunan dari nenek moyangnya dan yang datang belakangan mengaku-ngaku sebagai keturunan darinya. Namun bila ada orang yang papa, tak bertuan, dengan tubuh tidak bersandang, kaki tidak beralas, berteduh tidak berpapan, dan makan tidak berpangan, mereka itu jangankan yang jauh yang merupakan saudaranya pun engan mengangapnya sebagaia saudara., seriuzzzz nihhh.

Bila Sedang ditaqdirkan Allah maka kita bisa ketemu satu tradisi nyalawena. Apakah itu? Nyalawena adalah tradisi mencari ikan impugn, sejenis ikan-ikan kecil yang sangat enak untuk dijadikan bahan makanan. Nanti bisa dioblang, yaitu di sayur dengan air yang agakbanyak. Sediakan Garam, bawang merah, bawang putih, Jangan lupa kunyit dan penyedap rasa. Didihkan air dan masukkan impugn-nya. Atau dikerecek dengan bumbu yang hamper sama namun tidak banyak menambahkan air. Ata bisa kita pepes baik yang biasa atau pepes manis. Bisa juga digoreng sampai kering. Karean susah didapat maka ¼ liter bisa mencapai harga Rp 25.000. 

Ada satu lagi cara unik mengolah ikan impunn yaitu “kasem”. Kasem ini adalah olah khas ciadaun. Yaitu caranya impugn dicuci sampai bersih dan steril. Kalau gak bersih pasti tidak akan jadi Kasem. Kemudian setelah dicuci baru dikasih garam dan gula secukupnya. Lalu disimpan sampai lama bisa sampai berbulan-bulan supaya terpermentasi hingga mengandung asam. Hingga tidak salah memang Kasem ini memang asam rasanya. Cara mengolahnya adalah dengan menyiapkan kasem, lalu iris bawang putih, siapkan santan kelapa, garam, dan gula. Lalu semuanya panaskan selama 15 menit sampai air santannya agak kecoklatan. “Ngasem” dapat juga menggunakan ikan lain.

Untuk mencarinya kita tidak semabarangan waktu karena biasanya ada waktu khusus yaitu tanggal “lilikuran” artinya setelah tanggal 20. Dan yang muncu kebanyakan adalah tanggal “lima likur (25)” yang disebut “salawe”. Maka karena suka timbul pada tanggal salawe maka disebutlah kegiatan mencari impugn itu dengan “nyalawena”.

Tempat tempat yang sering dijadikan tempat mencari ikan impugn adalah muara Cidamar-Cidaun, terus ke Citihuk, Cipunage, Cisela, dan nanti ada Cilaki di Karang wangi.
Masyarakat cidamar menggunakan waring sebagai alatnya. Dengan Jango atau pegangan yang biasanya terbuat dari kayu Kukun. Waring ini adalah jarring yang ukuran matanya sangat kecil sehingga cocok untuk impun yang bertubuh mungil dan licin.
Saat impun ada biasanya Banawa hadir. Sama-sama makhluk Allah dan berguna. Saat ini masyarakat setempat masih belum memanfaatkan Banawa. Kebanyakan masyarakat menggunakannya sebagai pakan ternak. Belum ada yang berinovasi untuk menjadikannya sebagai bahan makanan atau obat obatan. Saya yakin aka nada nanati yang meneliti. Tidak mungkin Allah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia dan tidak berguna. Karena rumput yang tumbuh di dekat padi selalu ada manfaatnya meskipun kita tidak banyak tahu apa manfaatnya. Selama ini mereka kita istilahkan dengan hama dan gulma yang mengganggu tanaman kita.

Bila impun tidak diapat dengan cara itu maka masyarakat cidamar ada cara lain yaitu dengan cara nyimbut. Yaitu membuat kolam-kolam kecil dibatasi batau-batu sebagai perangkap, dan di sisi-sisinya dipasang waring yang menyellimuti area perangkap. Maka jadilah istilah nyimbut.

Dari nyalawena kita bisa merenung. Kok kenapa impun impugn itu hadir tepat waktu. Siapa yang ngajarin mereka ? siapa yang udah nunjukin jalan kepada mereka ? makhluk kecil yang rapuh mampu berada berkelompok datang seolah ikhlas menghantarkan diri untuk menjadi santapan sebangsa manusia yang ganas, serakah, ambisius dan mau menang sendiri (gue banget). Siapa yang telah menuntun mereka ini?



Aaah, Jawaban yang pasti mah … Allah

Kemudian daerah selatan yang berisi pantai-pantai cantik yang membentang dari Ciujung hingga desa Karangwangi. Di sekitar Cipandak kita langsung bisa melihat samudera Indonesia berada tidak jauh dari jalan lurus ke timur menuju desa Cidamar. Di Desa Cidamar ini ada kampong Ranca Mareme yang merupakan lokasi keberadaan Pelabuhan Jayanti yang sangat terkenal. Dari Sini kita lanjutkan kea rah Utara menuju Bayuning dan Polohok. Ini adalah tempat tertinggi di Cidaun hingga disebut Polohok karena laut dan area sekitarnya tepat berada di bawah telapak kaki kita… cieee

Kemudian kita masuk lebih dalam ke Wilayah Desa Karang Wangi. Nah, di sini ada situs Batu Kukumung yang sekarang dikelola dengan baik. Situs ini menyimpan kenangan masa lalu dan rahasia yang cukup banyak dibumbui mistis. Dari sini kita belajar untuk menulis segala hal yang penting dengan kebenaran agar anak cucu tidak simpang siur dengan catatan masa lalu yang hilang. Gaya bertutur tutur tinular tidak sesuai dengan ajaran agama islam yang memerintahakan mencatat wahyu yang jelas dengan Burhan dan Bayyinat hingga dari tuladan matan ini kita bisa punya acuan untuk menjelaskan, membantah, menguatkan, atau menolak. Situ Batu Kukumung sangat nyaman untuk bermediatasi dan merenungi keajaiban penciptaan diri dan alam semesta. Dengan semilir angin, di bawah cahaya rembulan, dan lembutnya dzikir dengan syahdunya harapan semakin menambah indah kedekatan makhluk dengan khaliknya meski selamanya gak bersatu, Cuma dekat saja, untuk bersatu jauh, betapa beda antar yang Maha suci dengan yang ingin mensucikan dirinya, Dekat bukan Menyatu.

Di Batas Cianjur – Garut

Jembatan eksotis dan panjang ini membenatng menghubungkan dua wilayah yang berada di lingkup Jawa Barat. Banyak kenangan masa lalu yang ada dalam catatan baik yang tersiar melalui kabar dari orang perorang. Bahwa kedua daerah ini orang-orangnya masih satu keturunan.

Jemabatan yang gagah ini seakan tangan yang berjabatan menghubungkan tali kasih agar tidak putus terbatas sungai dan tebing. Betapa indah ditatap dari ketinggian. Betapa mempesona dipandang dengan lebih dekat ke arahnya. Jemabatan ini bernama jembatan Cilaki. Dibawahnya mengalir sungai yang menjadi saksi bisu perjuangan seorang yang mulia, berilmu lagi sederhana, yang menyerahkan jiwa dan raganya demi tersebarnya Islam di wilayah selatan. Beliau adalah KH Abdurrahman bin Affandi. Beliau adalah Ustasnya para Asaatidz di Wilayah Garut Barat dan Cianjur Timur. Hijrah ke Desa Cidamar mendirikan Pesantren Najatain bersama Al-ustadz Yahya bin Juwaini, rahimahumullah .. amiin.

Dibawah kolong jembatan inilah ada juga tradisi “nyalawena” seperti di muara Cidamar. Bahkan impugn yang ada di Cilaki ini lebih banyak dari yang ada di Muara Cidamar. Seperti Jembatan Cidamar Jembatan Cilaki ini sangat indah, Cuma cilaki lebih Indah, silahkan kinjungi.

Menembus Wilayah Garut

Selepas Cilaku kita sudah berada di wilayah garut. Sepanjang jalan ini saya memberikan testimony pemabndangan begitu indah. Sisi kanan adalah samudera Indonesia yang luas. Sementara sisi kiri adalah kebun, ngarai, bukit dan area perkampungan. Bila saya tidak salah beberapa kali sebelum sampai di Ranca Buaya saya turun beberapa kali dari motor untuk mengambil gambar pemandangan yang cantik.

Bila mau singgahlah ke Ranca Buaya, Tempat wisata yang cantiknya tidak usah dibahas lagi. Pokokny cantik dan mempesina. Bentuknya yang memanjang sebagai semenanjung memang sangat persis seperti Buaya.


Namun bila anda sedang di Ranca Buaya, beloklah dahulu ke kiri memasuki wilayah caringin. Disana ada pemandangan cantik dengan samudera lepas sebagai pusatnnya. Ia bagaikan layar besar terkembang di depan mata. Luasnya samudera semakin jelas disini. Silahkan mencoba. Dari Cilaki ke Ranca menghabiskan waktu 30 menit. Untuk urusan bahan bakar kagak usah khawatir, karena di pinggiran jalan yang jualan bensin eceran atau Pertamini banyak sekali.

Dari Ranca Buaya ke Santolo

Ini adalah rute yang sangat nyaman dan menyenagkan. Silahkan coba sendiri. Saya akan berbicara tentang potensi wisata saja. Untuk potensi sepanjang Garut Selatan ini sangat potensial untuk dikembangkan. Daya tarik utamanya adalah kaslian dan keindahan landscape nya. Bentangan alam yang membentuk luasan atau distrik wisata sangat baik untuk dikembangkan.

Saat ini saya belum bisa menjelaskan nama-nama daerah yang saya lewati kemarin. Karena saya lebih focus pada mengobservasi potensi dan keindahan alam pantai di selatan Garut ini., pokoknya mah “ngetan” we nya … !!!

Satu jam setengah perjalanan sampailah kita di Sayang heulang … selamat berkunjung …





Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bagaimana Rute Jalan dari Cidaun ke Sayang Heulang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel