Pengaruh Kuat "Ngaos" terhadap "Mamaos" di Cianjur

Sudah begitu familiar pada masyarakat Sunda adanya seni Seni Mamaos Tembang Sunda Cianjuran. Sora halimpu sinden dipirig ku sora kacapi jeung geureuleukna suling (suara merdu sang biduan diiringi suara kecapi dan seruling) adalah ciri khas Kesenian ini. Begitu syahdu kita dengar. Begitu damai kita dibuatnya. dan begitu dalam pesona falsafah yang terkandung dalam bait-bait syairnya. Semua yang mendengarkan dengan seksama akan dibawa kepada luhurnya budi pekerti dipadu dengan halusnya rasa dan peribahasa.


Keindahan gaya bertutur yang demikian indah adalah cerminan sikap hidup masyarakat Sunda. Siakpnya yang sopan dan peramah membuat orang Sunda mudah diterima masyarakat manapun. Masyarakat yang mana yang tidak akan suka kepada orang yang halus dalam bertutur dan sopan dalam bersikap. Bahkan sering juga orang bilang bahwa orang Sunda cocok bila menjabat sebagai diplomat. Hal ini mencerminkan sikap bersahabat dan cinta damai. Ini juga dibuktikan dengan banyaknya diplomat dan duta besar Indonesia yang berasal dari Sunda. Meski pun keberhasilan menjadi diplomat tidak ada hubungannya dengan daerah asal seseorang. Namun kiranya pengaruh sikap dan sopan santun seseorang yang terpancar kuat dari diriya bukan lah seseatu yang biasa-biasa saja.

Bila kita kaji lebih dalam, ternyata sikap dan gaya hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan. Bagi masyarakat Cianjur dari dulu sampai sekarang Budaya Ilmu sangatlah diperhatikan. Satu diantara budaya yang kuat di cianjur adalah budaya Sunda yang dibalut dengan tradisi kepesantrenan masyarakat Islam Cianjur. Tradisi ini dinamakan "ngaos" atau mengaji. Yaitu  aktifitas menuntut ilmu dengan berbagai cara. Ada yang datang dan bermukim ke pesantren ulama besar di Cianjur dan menetap bersamanya selama bertahun-tahun sampai ilmu mencukupi sebagai bekal kehidupan. Ada juga yang mendatangkan guru ke rumah mereka untuk mengajar mengaji.

Budaya ngaos ini sangat berpengaruh dalam kehidupan orang Cianjur. Karena ketika mengaji mereka mendapatkan ajaran akhlak dan budi pekerti yang luhur. Lalu mereka mengaplikasikannya dalam seluruh dimensi kehidupan mereka. Termasuk di dalamnya ketika mereka beresenian sebagai perwujudan rasa indah dalam diri mereka.

Demikian hubungan erat antara "ngaos" dan "mamaos" dalam tradisi Sunda.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel